Asosiasi Pengembang Properti Berharap Bunga KPR Non Subsidi Juga Turun

Asosiasi pengembang properti, Real Estate Indonesia, (REI), berharap kebijakan pemerintah mengintervensi suku bunga fasilitas likuiditas pembiayaan perumahan (FLPP) diikuti dengan penurunan bunga kredit pemilikan rumah (KPR) non subsidi. Langkah ini untuk mendukung bisnis properti di Tanah Air. Pemerintah berencana menurunkan suku bunga FLPP dari 7,25 persen menjadi 5 persen. Ketua Umum REI Eddy Hussy mengatakan penurunan bunga FLPP sebesar 2,25 persen bisa membantu mengurangi beban cicilan bulanan rumah. Kebijakan tersebut juga juga dapat menarik minat masyarakat berpenghasilan rendah(MBR) membeli rumah dengan.


Eddy menjelaskan pihaknya sudah memberikan saran kepada Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat terkait perhitungan angka yang ideal bagi penurunan bunga FLPP tersebut. "Angka pastinya sedang dibahas pemerintah dan sampai kini kami juga belum menerima kabar kapan tingkat bunga yang baru ini akan diberlakukan. Semuanya tergantung pemerintah," ujar eddy.



Eddy menambahkan rencana penurunan bunga FLPP juga sebaiknya diikuti dengan penurunan bunga kredit pinjaman rumah non subsidi untuk mendukung bisnis properti. Meskipun demikian, penurunan bunga KPR non-subsidi tidak menjadi prioritas sektor properti saat ini mengingat tujuan penurunan bunga FLPP adalah untuk meningkatkan daya beli golongan MBR dalam memiliki unit-unit rumah, bukan dilandasi motivasi bisnis. Ketua Umum REI berharap pemerintah bisa segera memastikan kapan dimulainya pelaksanaan FLPP ini supaya akses rumah kepada sasaran kebijakan dapat semakin lebar. "Lebih cepat lebih baik," ujar Eddy.



Tulis Komentar
  • Blogger Comment using Blogger
  • Facebook Comment using Facebook
  • Disqus Comment using Disqus

Tidak ada komentar :