Kegagalan Saat Stressing Disebut Sebagai Penyebab Retaknya Tiang Tol Priok

Retaknya Tiang Tol Priok
Konstruksiana- Penyebab retaknya 69 tiang jalan tol Tanjung Priok diduga karena kegagalan saat pelaksanaan konstruksi. "Terjadi kegagalan pada saat stressing (pemadatan) konstruksi tiang. Karena belum waktunya diangkat sudah diangkat," ujar Hediyanto, Direktur Jenderal Binamarga Kementerian PU dan Perumahan Rakyat (PUPR).

Tol Priok adalah bagian pekerjaan yang berada di kawasan Cilincing dan memiliki panjang 2,7 km. "Dari 2,7 km, hampir 50%-nya terindikasi tidak sesuai spesifikasi," ungkapnya.
Akibat kegagalan teknis tersebut mengakibatkan 69 tiang yang mengalami keretakan harus dibongkar. Hedi menjelaskan Kegagalan tersebut telambat terdeteksi karena ketika pemeriksaan waktu pembuatan tiang pendek nampak tak ada masalah. "Stressing pada pilar pendek tidak bermasalah. Masalah baru ketahuan setelah stressing pada pilar-pilar tinggi," ujarnya.

Sebenarnya pembongkaran bukanlah satu-satunya solusi, ada opsi lain supaya pilar-pilar retak itu cukup diperkuat saja tanpa perlu pembongkaran. "Tapi kontraktornya tidak mau merusak reputasinya, sehingga lebih memilih membongkarnya, dan membangunnya dengan yang baru dan sesuai spesifikasi. Dan mereka siap menanggung biaya pembongkaran dan perbaikan itu dengan dana mereka sendiri," ujar Hedi.

Proyek Tol ini dikerjakan bersama antara Kajima Corporation dengan PT Waskita Karya (Persero), dan dibiayai dari dana pinjaman Pemerintah Jepang lewat Japan International Cooperation Agency (JICA). Kegagalan kontruksi ini merupakan yang pertama kali dialami Kajima Corporation, selaku perusahaan pelaksana konstruksi ruas jalan tol ini.

Akibat kegagalan ini biaya ekstra yang harus dikeluarkan untuk membongkar dan membangun kembali pilar-pilar diperkirakan mencapai Rp 1,4 triliun. Biaya tersebut tidak hanya ditanggung oleh Kajima Cooperation tetapi juga oleh rekanannya di Indonesia yakni PT Waskita Karya (Persero).
Tulis Komentar
  • Blogger Comment using Blogger
  • Facebook Comment using Facebook
  • Disqus Comment using Disqus

Tidak ada komentar :