Rencana Menghidupkan Kembali Jalur KA Maut Saketi-Bayah

Selama Perang Dunia II (1938-1945) Jepang membangun tiga jalur kereta api di dua wilayah di Asia Tenggara yaitu jalur Thailand-Burma, Muaro Sijunjung-Pekanbaru, dan jalur Saketi-Bayah. Jalur Saketi – Bayah (Death Railway) pembangunannya dilaksanakan antara tahun 1942-1945. Pembangunan jalan ini untuk mengangkut batu bara dari tambang batu bara Cikotok yang merupakan bahan bakar kereta api dan kapal zaman itu dan menghindarkan angkutan laut yang sudah mulai terancam oleh serangan torpedo kapal selam sekutu.

Jalur Saketi-Bayah berawal di stasiun Saketi, dan berakhir di Gunungmandur, letak tambang batu bara yang terjauh. Stasiun Gunungmandur terletak dua kilometer dari stasiun Bayah. Jalur sepur tunggal ini dilengkapi dengan sembilan stasiun dan lima halte (yaitu Cimangu, Kaduhauk, Jalupang, Picung, Kerta, Gintung, Malingping, Cilangkahan, Sukahujan, Cihara, Panyawungan, Bayah dan Gunungmandur). Pembangunan jalur Saketi-Bayah menggunakan tenaga romusha dan melibatkan sejumlah tenaga ahli perkereta apian Belanda yang menjadi tawanan perang Jepang. Sejak awal tahun 1943 banyak pakar perkeretaapian Belanda dipaksa menyumbangkan keahlian dan pengetahuan mereka untuk pembangunan jalur sepanjang 89 km ini. Selama proses pembangunan diperkirakan 93.000 romusha meregang nyawa.

Jalur Saketi-Bayah sempat beroperasi hingga tahun 60an, hingga kemudian berhenti beroperasi hingga sekarang. Sayangnya jalur maut itu banyak yang tak bersisa.

Menghidupkan Kembali Jalur Saketi-Bayah

Setelah lama mati kini muncul wacana menghidupkan kembali Jalur Sakaeti-Bayah dari Pemerintah Kabupaten Lebak. Ditjen Perkeretaapian Kementerian Perhubungan (Kemenhub) berencana mengkaji keinginan Pemkab menghidupkan kembali jalur kereta api jurusan Rangkasbitung-Saketi-Bayah sepanjang 150 kilometer.

"Kami sudah melakukan pembahasan dengan Pemprov Banten,terkait pembukaan jalur Rangkasbitung-Saketi-Bayah," kata Dirjen Perkeretaapian Kementerian Perhubungan Hermanto Dwiatmoko.

Menurut Dirjen Perkeretaapian, pembangunan jalur KA Rangkasbitung-Saketi-Bayah penting sebagai sarana penunjang transportasi masyarakat untuk mendukung percepatan pembangunan Nasional. Selain itu juga akan memberikan dampak positif bagi optimalisasi pertumbuhan ekonomi masyarakat di daerah tersebut. Apalagi saat ini di daerah Bayah sudah ada kawasan industri pabrik semen, kawasan wisata, perkebunan, serta pertanian.

"Kami berharap keinginan Pemkab Lebak dapat direalisiasikan oleh pemerintah pusat," katanya.

Hermanto menegaskan, pengoperasian kembali jalur Rangkasbitung-Saketi-Bayah untuk pemerataan pembangunan antara selatan dengan utara di Provinsi Banten. Saat ini, wilayah Lebak selatan sulit mengakses sarana transportasi jadi pembukaan jalur KA bakal mampu mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat setempat.

"Pembangunan transportasi KA tentu menjadikan agenda pembangunan Nasional," katanya.

Sementara itu, Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kabupaten Lebak Wahab Rahmat mengatakan pemerintah daerah bakal mengawal bila pembangunan rel KA itu direalisasikan baik rencana umum tata ruang (RUTR) dan sosialisasi kepada masyarakat. Karena faktanya rel KA Rangkasbitung-Saketi-Bayah sudah berubah menjadi permukiman, ada juga ada yang longsor.

Pendataan ulang dan pemetaan jalur perlu dilakukan, karena jalur itu sudah lama tidak digunakan. "Kami akan mengoptimalkan sosialisasi kepada masyarakat khususnya warga yang menempati tanah milik PT KAI secara iklas tidak menuntut ganti rugi," katanya.

Wahab mengatakan, pembangunan wilayah selatan Kabupaten Lebak memang tertinggal jauh jika dibandingkan pembangunan daerah utara Provinsi Banten. Pembangunan wilayah utara meliputi Tangerang begitu tumbuh pesat kawasan industri, pusat perdagangan maupun jasa.

Ia menambahkan, pihaknya mendesak pemerintah segera membangun kembali jalur rel KA Rangkasbitung-Saketi-Bayah. "Bila perlu pembangunan rel itu secepatnya bisa direalisasikan karena bisa meningkatkan kesejahteraan pada masyarakat," katanya.

Sumber Image : Humas Padeglang
Tulis Komentar
  • Blogger Comment using Blogger
  • Facebook Comment using Facebook
  • Disqus Comment using Disqus

Tidak ada komentar :