Penetrasi Beton Pracetak dan Prategang Baru Mencapai 18,6 Persen

Penetrasi beton cetak dan prategang saat ini ternyata masih di bawah 20 persen. Menurut Direktur Bina Penyelenggaraan Jasa Konstruksi Ditjen Bina Konstruksi Kementerian PUPR, Darda Daraba, berdasarkan data dari Asosiasi Perusahaan Pracetak dan Prategang Indonesia baru di angka 25,45 juta ton atau 18,6 persen. Karena itulah, pemerintah melalui Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) menargetkan penetrasi beton pracetak dan prategang sebesar 30 persen pada 2019.

Darda memaparkan, kedepan peluang peningkatan pemakaian beton pracetak dan prategang di Indonesia akan sangat terbuka, terlebih dengan adanya isu percepatan pembangunan infrastruktur.
"Jika tercapai 30 persen, berarti sekitar 41 juta ton proyek-proyek infrastruktur akan menggunakan beton pracetak dan prategang," katanya.

Untuk merealisasikan hal diatas menurut Darda, pemerintah sendiri melalui sejumlah direktorat di Kementerian PUPR seperti Bina Marga, Cipta Karya dan Sumber Daya Air sangat mendorong pemakaian kedua jenis beton tersebut.

"Teknologi Pracetak dan Prategang untuk beton, sebetulnya sudah dikuasai oleh industri dalam negeri. Hanya saja perlu dorongan, sosialisasi yang masif dan contoh pemakaian," katanya.

Darda berharap, pihak terkait di tanah air, sama-sama memahami bahwa teknologi beton pracetak dan prategang ini, selain hemat, lebih akurat dari persyaratan konstruksi, juga lebih cepat dikerjakan.

"Bayangkan untuk membuat rumah tipe 36 saja, hanya perlu waktu hitungan jam sudah jadi dan dengan biaya jauh lebih murah," katanya.

Optimistisme Produsen

Di pihak produsen, Ketua Asosiasi Perusahaan Pracetak dan Prategang Indonesia (AP3BI) Wilfred Singkali yakin target penetrasi beton pracetak dan prategang sebesar 30 persen pada 2019 bisa tercapai. "Industri itu mampu memenuhi sesuai permintaan sebesar itu," katanya.

Namun, ia berharap dukungan dan sosialisasi yang massif oleh pihak terkait. "Sekarang siapa pun harus mampu menyakinkan bahwa beton pracetak dan prategang kualitasnya sama dengan beton konvensional," katanya.

Sekarang ini pemanfaatan beton pracetak dan prategang sudah diadopsi oleh negara-negara maju hampir mencapai 80 persen seperti di Jepang. Sebagai contoh Jepang, negara yang begitu akrab dengan gempa, sudah lama menggunakan teknologi ini. Bahkan, hampir 80 persen dari program pembangunan infrastruktur menggunakannya.

“Untuk pasar domestik saja, industri beton pracetak dan prategang akan sangat besar permintaannya. Jadi, tak perlu membidik ekspor," katanya.
Tulis Komentar
  • Blogger Comment using Blogger
  • Facebook Comment using Facebook
  • Disqus Comment using Disqus

Tidak ada komentar :