Ternyata Inilah Penyebab Robohnya JPO Pasar Minggu

Sore itu Jakarta dilanda hujan lebat disertai angin kencang. Rojudin, warga Kebayoran, dengan mengendarai Suzuki APV dari Serpong hendak menuju Pancoran. Namun, selepas keluar tol Jakarta Outer Ring Road (JORR) Mampang, laju kendaraanya harus tertahan di daerah Pasar Minggu dan hanya bisa berjalan merambat. Saat kendaraanya berada di underpass Pasar Minggu tiba-tiba saja terdengar suara benturan keras.

Rupanya pagar jembatan rubuh dan menimba beberapa kendaraan yang berada di bawahnya. Untung saja nasib baik masih berpihak pada Rojudin. Walaupun mobil yang ia kendarai ringsek tergencet reruntuhan pagar jembatan ia masih bisa menyelamatkan diri.

Rojudin mengisahkan, waktu itu orang-orang yang ada di bawah panik karena mobil tidak bisa bergerak karena kondisi jalanan sedang macet . Selain mobil APV yang ia bawa, ada 3 mobil lain dan motor yang bernasib sama.

“Saat kejadian setidaknya ada 9 orang yang tengah melintas di JPO. Di antara mereka ada juga ibu-ibu dan anak-anak.Mereka teriak 'tolong.. tolong...," kata Rojudin.

Investigasi Penyebab Kegagalan Struktur

Musibah robohnya JPO Pasar Minggu ini langsung mendapat perhatian dari pihak terkait. Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat langsung melakukan penyelidikan terhadap ambruknya JPO. Mereka menurunkan tim yang terdiri dari empat orang untuk terjun ke lokasi ambruknya jembatan.

Kasubdit Terowongan dan Jembatan Khusus Ditjen Bina Marga Kementerian PUPR Iwan Zarkasi mengatakan , menurut hasil penelusuran tim yang diketuai Dirjen Bina Marga Arie S Moerwanto tersebut, ambruknya JPO Pasar Minggu karena pemasangan papan reklame yang tidak sesuai dengan konstruksi jembatan.

Iwan menjelaskan papan reklame di JPO Pasar Minggu memang tidak dipasang di konstruksi penyangga, melainkan di plat jembatan. Apalagi JPO ini umurnya sudah 14 tahun, tak ayal saat terjadi angin kencang ketika angin kencang menerpa, papan reklame yang terpasang tersebut akhirnya tidak dapat menahan terpaan angin sehingga ambruk.

Iwan Zarkasi menjelaskan di Indonesia menurut Undang Undang Nomor 18 Tahun 1999 tentang jasa konstruksi ada tiga aspek terkait kegagalan konstruksi JPO. "Ketiganya adalah perencanaan yang salah, pelaksanaan dan pengawasan dan pemakaian atau fungsional," katanya.

Iwan menjelaskan, perencanaan yang salah terkait dengan perhitungan sebelum masa pembangunan dimulai, misalnya desain pondasi yang dibangun pada struktur tanah yang belum siap.

Ia mencontohkan, pembangunan pondasi yang seharusnya dimulai di tanah keras yang penggaliannya sedalam 20 meter, namun pondasi dibangun di atas tanah sedalam 5 meter, sehingga pondasi di bangun di atas tanah yang masih lunak.

Kegagalan pembangunan JPO kedua yakni pelaksanaan dan pengawasan, seringkali terkait saat pengecoran. Terakhir dari aspek pemakaian atau fungsional, jembatan bisa ambruk karena kelebihan beban, yang berasal dari pengguna JPO, maupun papan reklame tambahan.

Berdasarkan hasil dari tim investigasi, menurut Iwan , setidaknya terdapat dua aspek penyebab robohnya JPO Pasar Minggu.

Pertama, karena perencanaan yang salah, artinya pihak pembangun tidak mempertimbangkan adanya beban tambahan dari papan reklame permanen yang dipasang. Selain itu, aspek pemakaian atau fungsional yang berkaitan dengan angin dan cuaca ekstrim yang terjadi.

Sumber Foto : Tribunnews
Tulis Komentar
  • Blogger Comment using Blogger
  • Facebook Comment using Facebook
  • Disqus Comment using Disqus

Tidak ada komentar :