Akhir Oktober lalu, sebuah berita dari Semarang membuat saya berhenti membaca yang lain. Gedung Pandanaran, kantor sejumlah dinas Pemerintah Kota Semarang, dilaporkan miring dan strukturnya bergeser. Masalah itu justru ketahuan saat lift gedung sedang diremajakan. Gedung yang dibangun tahun 1992 itu setiap hari ditempati ratusan pegawai.
Bagi orang awam, lift yang macet atau pintunya tidak lagi pas mungkin dianggap urusan mesin. Bagi kami yang bekerja di dunia struktur, rel lift adalah penggaris vertikal paling jujur di sebuah gedung. Jika rel itu tidak lagi tegak, berarti ada yang bergerak, dan biasanya bukan liftnya.
Wali Kota Semarang kemudian meminta seluruh gedung milik Pemkot mengurus Sertifikat Laik Fungsi (SLF) dan mempertimbangkan pengosongan gedung. Dugaan awal yang beredar di media adalah beban yang melampaui kapasitas rencana, tetapi pemeriksaan teknis belum diumumkan. Saya tidak akan menebak hasilnya. Yang menarik justru pertanyaan yang lebih umum: mengapa sebuah gedung bisa miring?
Miring karena tanah, atau karena strukturnya?
Ada dua kemungkinan yang sering tertukar. Pertama, seluruh gedung miring sebagai satu kesatuan karena pondasinya turun tidak sama, seperti meja yang satu kakinya amblas ke karpet tebal. Kedua, struktur atasnya sendiri yang berubah bentuk, misalnya kolom yang melendut atau tertekuk karena beban berlebih, seperti gedung di Manhattan yang saya tulis sebelumnya. Penanganan keduanya sangat berbeda, sehingga hal pertama yang harus dijawab pemeriksa adalah yang mana.
Dari pengalaman dan catatan kasus di banyak negara, penyebab teknisnya hampir selalu jatuh ke salah satu dari tujuh hal ini:
| Penyebab | Apa yang terjadi |
|---|---|
| Penurunan tidak seragam | Tanah lunak, terutama lempung, memadat perlahan di bawah beban. Jika jenis tanah, beban, atau pondasi tidak sama di setiap sisi, satu sisi turun lebih banyak |
| Pondasi tidak sampai tanah keras | Tiang berhenti di lapisan yang dikira cukup kuat, padahal di bawahnya masih ada lapisan lunak yang terus memadat |
| Daya dukung tanah terlampaui | Tanah di bawah pondasi runtuh menggeser ke samping; gedung terguling dalam hitungan jam atau hari |
| Gangguan di sekitar bangunan | Galian basement tetangga, pemompaan air tanah saat konstruksi, atau timbunan tanah di satu sisi mengubah tekanan tanah |
| Penurunan tanah regional | Pengambilan air tanah berlebihan membuat permukaan tanah satu kawasan turun, dan tidak selalu merata |
| Likuifaksi saat gempa | Pasir jenuh air kehilangan kekuatan dan berperilaku seperti cairan; gedung bisa miring tanpa strukturnya patah |
| Beban melampaui rencana | Perubahan fungsi, penambahan lantai, atau barang berat menambah beban pada struktur dan pondasi yang dulu tidak dirancang untuk itu |
Pelajaran dari luar negeri
Menara Pisa, Italia. Contoh paling terkenal sekaligus paling sabar. Menara ini mulai miring saat masih dibangun karena berdiri di atas tanah lempung lunak. Antara 1990 dan 2001, para insinyur tidak melawannya dengan beton, melainkan dengan mengambil tanah sedikit demi sedikit dari bawah sisi yang lebih tinggi. Menara itu perlahan kembali sekitar 45 cm. Kadang solusi terbaik adalah bekerja bersama tanah, bukan melawannya.
Lumbung gandum Transcona, Kanada, 1913. Saat silo pertama kali diisi penuh, tanah lempung di bawahnya runtuh dan bangunan beton itu miring sekitar 27 derajat dalam sehari. Hebatnya, strukturnya nyaris utuh. Bangunan itu kemudian ditegakkan kembali dan pondasinya diteruskan sampai lapisan batuan. Kasus ini masih diajarkan di kuliah mekanika tanah sebagai contoh kegagalan daya dukung.
Niigata, Jepang, 1964. Gempa membuat pasir di bawah kompleks apartemen Kawagishi-cho mengalami likuifaksi. Beberapa blok apartemen miring, bahkan ada yang hampir rebah, sementara bangunannya sendiri relatif utuh. Dari sinilah dunia mulai serius mempelajari likuifaksi, pelajaran yang terasa lagi di Palu tahun 2018.
Shanghai, Tiongkok, 2009. Sebuah gedung apartemen 13 lantai yang hampir selesai rebah utuh ke samping. Di satu sisinya digali lubang untuk parkir bawah tanah, sementara di sisi lain tanah galian ditimbun tinggi. Perbedaan tekanan tanah mematahkan tiang-tiang pondasinya. Pelajaran pahitnya: bangunan bisa dirancang benar, tetapi tetap celaka karena pekerjaan di sebelahnya.
Millennium Tower, San Francisco. Gedung apartemen mewah yang dibuka tahun 2009 ini dilaporkan terus turun dan miring. Tiangnya bertumpu pada lapisan pasir padat, tetapi tidak menembus sampai batuan dasar yang jauh lebih dalam, sementara di bawahnya ada lempung yang terus memadat. Perbaikan senilai sekitar 100 juta dolar AS dengan tiang tambahan sampai batuan menurut laporan media tampaknya menghentikan penurunan, tetapi belum mengembalikan kemiringannya seperti yang diperkirakan. Mahal sekali untuk sebuah keputusan pondasi.
Hampir semua gedung miring sebenarnya sudah memberi tanda bertahun-tahun sebelumnya. Yang kurang biasanya bukan teknologinya, melainkan orang yang mau membaca tanda itu.
Dekat dengan kita
Isu serupa pernah ramai soal Menara Saidah di Jakarta, gedung yang kosong sejak 2007. Kabar bahwa gedung itu miring karena tanah Jakarta ambles belum pernah dipastikan, tetapi kajian geodesi ITB mencatat laju penurunan tanah di Jakarta berkisar 1 hingga 26 cm per tahun. Di kawasan yang turunnya tidak merata, para peneliti mengingatkan bahwa bangunan miring memang mungkin ditemukan.
Tanah di sekitar kita sangat beragam. Di dua proyek kami di Solo Raya tahun ini saja, hasil sondir menunjukkan tanah keras di kedalaman 1,8 meter di satu lokasi dan baru ditemukan di 7,6 meter di lokasi lain. Pondasi yang sama persis untuk kedua lokasi itu pasti salah di salah satunya. Karena itu penyelidikan tanah bukan formalitas, apalagi untuk gedung bertingkat.
Solusinya: membaca tanda, lalu bertindak bertahap
Penanganan bangunan miring selalu dimulai dari pengukuran, bukan dari bongkar-pasang. Kemiringan dan penurunan dipantau dengan alat ukur survei, retak ditandai dan dicatat lebarnya, dan bila perlu dipasang inklinometer. Sebagai patokan yang dipakai banyak insinyur, beda penurunan antara dua titik pondasi sekitar 1/500 dari jaraknya mulai perlu diwaspadai, dan mendekati 1/150 kerusakan struktur sudah sangat mungkin terjadi.
Setelah penyebabnya jelas, pilihan penanganannya bergantung pada kasus:
| Tindakan | Kapan dipakai |
|---|---|
| Mengurangi beban, mengosongkan sebagian lantai | Langkah darurat sambil menunggu hasil pemeriksaan, terutama bila dugaan penyebabnya beban berlebih |
| Memperkuat pondasi (underpinning): tiang tambahan, tiang mikro, injeksi semen (grouting) | Pondasi lama tidak sampai tanah keras atau daya dukungnya kurang |
| Mengambil atau memadatkan tanah di sisi tertentu | Mengoreksi kemiringan perlahan, seperti di Pisa; butuh pemantauan sangat ketat |
| Menegakkan kembali dengan dongkrak | Struktur atas masih utuh dan kaku, seperti di Transcona |
| Memperkuat struktur atas | Kolom atau balok sudah melendut, retak, atau tertekuk |
| Mengendalikan air tanah dan pekerjaan di sekitar | Penurunan dipicu pemompaan air atau galian tetangga |
Untuk bangunan baru, pencegahannya jauh lebih murah: penyelidikan tanah sebelum mendesain, pondasi sampai lapisan yang tepat, perhitungan penurunan, dan pengawasan saat tetangga menggali basement. Untuk bangunan lama, SLF dan pemeriksaan berkala adalah kesempatan untuk membaca tanda sebelum terlambat.
Langkah Pemkot Semarang mewajibkan SLF untuk semua gedungnya patut diapresiasi, meski datang setelah ada yang miring. Saya berharap langkah itu tidak berhenti di Semarang. Banyak gedung di kota-kota kita yang usianya sudah lebih dari tiga puluh tahun, berganti fungsi beberapa kali, dan belum pernah diperiksa ulang sejak hari diresmikan.
Gedung yang miring sebenarnya sedang berbicara. Tugas kita adalah mendengarkannya lebih awal.
Fathoni Arief, ST, M.Ars adalah Penulis dan perencana struktur, pendiri KONSTRUKSIANA di Yogyakarta. Sebelumnya ia bekerja sebagai wartawan, dan kini juga menulis fiksi.
Bangunan Anda mulai retak atau terasa miring? Konsultasikan pemeriksaannya · Kolom lainnya
Kolom berisi pandangan pribadi penulis. Rujukan: Tribun Jateng, 26 Oktober 2026; Radar Kuningan, 31 Oktober 2023 (kajian Andreas dkk., Geodesi ITB); NBC Bay Area, September 2023.
Posting Komentar untuk "Ketika Gedung Miring: Penyebab Teknis dan Solusinya"