Banyak orang mengira bangunan "sesuai SNI" cukup dengan memakai semen atau besi berlabel SNI. Itu baru sebagian. SNI juga mengatur cara bangunan direncanakan: seberapa kuat tanahnya, berapa beban yang dipikul, sampai bagaimana bangunan bertahan saat gempa. Animasi di bawah menunjukkan enam tahap yang biasanya dicek insinyur struktur.
1. Pondasi: kenali tanahnya dulu
Acuan perancangan geoteknik adalah SNI 8460:2017. Intinya, ukuran dan kedalaman pondasi ditentukan dari daya dukung tanah, bukan dari kebiasaan tukang. Untuk bangunan bertingkat, gudang, atau tanah yang meragukan (bekas sawah, urukan, lereng), penyelidikan tanah seperti sondir atau bor sangat dianjurkan.
2. Sloof dan kolom: beton dan tulangan dihitung
Elemen beton bertulang mengacu pada SNI 2847:2019 tentang persyaratan beton struktural untuk bangunan gedung. Yang dihitung antara lain mutu beton, jumlah dan diameter tulangan, jarak sengkang, serta tebal selimut beton yang melindungi besi dari karat. Kolom yang terlihat "cukup besar" belum tentu cukup kuat bila tulangannya kurang atau sambungannya salah.
3. Balok dan pelat lantai: beban sesuai fungsi ruang
Besar beban diatur dalam SNI 1727:2020 tentang beban desain minimum. Beban mati (berat bangunan sendiri), beban hidup (penghuni, perabot, barang), dan beban atap berbeda untuk rumah, kos, toko, gudang, atau sekolah. Karena itu, mengubah fungsi bangunan, misalnya rumah menjadi kos atau gudang, perlu dihitung ulang dan diurus lewat PBG perubahan fungsi.
4. Sambungan: siap menghadapi gempa
Indonesia rawan gempa, dan DIY termasuk wilayah yang pernah merasakannya. Perencanaan ketahanan gempa mengacu pada SNI 1726:2019 beserta peta gempa terbaru. Lokasi dan jenis tanah menentukan kategori desain seismik, yang kemudian menentukan detail penulangan. Bagian paling kritis biasanya sambungan balok–kolom dan ujung-ujung kolom, tempat sengkang dipasang lebih rapat.
5. Rangka atap: ringan, tetap dihitung
Rangka atap baja ringan memakai profil yang memenuhi SNI 8399:2017, sedangkan baja struktural (misalnya rangka gudang WF) mengacu pada SNI 1729:2020. Atap yang ambruk sering bukan karena bajanya, melainkan jarak kuda-kuda terlalu lebar, sekrup sambungan kurang, atau angkur ke balok tidak kuat menahan angin.
6. PBG dan SLF: bukti di atas kertas
Gambar dan perhitungan yang memenuhi SNI di atas menjadi dasar pengajuan Persetujuan Bangunan Gedung (PBG) di SIMBG sebelum membangun. Setelah bangunan selesai, kesesuaiannya diperiksa untuk Sertifikat Laik Fungsi (SLF). Panduan langkahnya ada di cara mengurus PBG & SLF di Sleman.
Ringkasan SNI yang dipakai
| Tahap | SNI | Yang diatur |
|---|---|---|
| Pondasi | SNI 8460:2017 | Perancangan geoteknik |
| Sloof, kolom, balok, pelat | SNI 2847:2019 | Beton struktural |
| Semua elemen | SNI 1727:2020 | Beban desain minimum |
| Semua elemen | SNI 1726:2019 | Ketahanan gempa |
| Atap baja ringan | SNI 8399:2017 | Profil rangka baja ringan |
| Rangka baja (gudang) | SNI 1729:2020 | Baja struktural |
Pertanyaan yang sering muncul
Apakah rumah satu lantai juga perlu dihitung?
Untuk PBG, tetap perlu gambar struktur. Rumah sederhana di tanah stabil biasanya cukup sederhana hitungannya, tetapi rumah dua lantai, kos, ruko, dan gudang sebaiknya selalu dihitung lengkap.
Material ber-SNI sudah cukup?
Belum. Material ber-SNI menjamin mutu bahannya, sedangkan kekuatan bangunan ditentukan oleh ukuran, tulangan, dan sambungan yang direncanakan.
Bangunan lama tanpa perhitungan, bagaimana?
Bisa dikaji ulang (kajian keandalan struktur) sebagai bagian dari pengurusan SLF bangunan eksisting.
Butuh perhitungan struktur sesuai SNI untuk rumah, kos, atau gudang Anda? Lihat jasa perhitungan struktur (mulai Rp25.000/m²) atau tanya langsung via WhatsApp.
Posting Komentar untuk "Bangunan Sesuai SNI Itu Seperti Apa? 6 Tahap yang Dicek"